Gila! 300TB Saja Bisa Simpan 99,6% Lagu Spotify yang Sering Diputar? Begini Caranya!

Nih, jadi tadi gue lagi baca-baca diskusi seru di Reddit tentang orang yang berhasil scrape data Spotify dalam skala gila-gilaan. Jadi intinya, ada yang bilang mereka bisa mengumpulkan hampir semua lagu yang sering diputar di Spotify—sekitar 99.6% dari total streaming—dan ukurannya cuma sekitar 300TB. Tapi yang bikin penasaran sebenernya gimana sih caranya mereka bisa scrape data sebanyak itu? Ada yang nebak mungkin pakai botnet atau residential proxy, atau bahkan membuat jutaan akun Spotify palsu. Beberapa orang curiga ini dilakukan dari negara yang longgar soal hak cipta, kayak China atau Rusia, jadi susah dituntut.

Nah, soal 300TB itu, ada yang bilang itu cuma setetes air di laut buat Spotify, karena platform itu punya ratusan juta lagu. Tapi yang menarik, ternyata mayoritas lagu yang ada di Spotify—sekitar tiga perempatnya—hanya menyumbang 0.4% dari total waktu dengerin orang. Artinya, sebagian besar lagu hampir nggak pernah didengerin! Ini bikin beberapa orang heran, tapi ada juga yang bilang wajar aja karena distribusi popularitas musik emang sering nggak merata, kayak lagu-lagu viral kayak “Despacito” yang mungkin nyedot persentase besar.

Reaksinya beragam banget. Ada yang excited banget, terutama para data hoarder atau musichoarder, yang pengen nyimpan arsip ini buat koleksi pribadi atau eksplorasi musik. Mereka ngomongin hardware yang dibutuhkan—mulai dari hard disk besar sampe server mahal—dan software yang harus diadaptasi buat library segede itu. Tapi di sisi lain, banyak juga yang skeptis. Mereka ngerasa kualitas audio yang disediakan Spotify (sekitar 160kbps OGG) nggak cukup buat standar audiophile, dan lebih milih beli lagu lossless di platform kayak Bandcamp. Atau tetep langganan Spotify karena fitur rekomendasi, playlist, dan kemudahan aksesnya.

Beberapa orang juga ngomongin sisi legalitasnya. Mereka heran gimana proyek kayak Anna’s Archive ini nggak ketangkep atau dituntut, apalagi udah diblokir di beberapa negara. Ada yang bilang mungkin mereka operasi dari wilayah yang nggak terlalu peduli sama copyright, jadi susah dilacak. Tapi yang jelas, banyak yang ngerasa ini bisa jadi ancaman buat Spotify dan artis, meskipun ada juga yang bilang justru ini bisa mendukung musisi dengan cara beli langsung kalau nemu lagu yang disuka.

Yang lucu, ada yang udah coba implementasi kecil-kecilan, kayak pake Navidrome atau Jellyfin buat hosting musik sendiri, dan bilang itu cukup buat kebutuhan pribadi. Tapi ya, buat yang pengen punya “Spotify lengkap” sendiri, tantangannya besar—nggak cuma soal penyimpanan, tapi juga maintenance, update lagu baru, dan bikin algoritma rekomendasi yang setara.

Intinya, diskusi ini nangkep ketegangan antara keinginan buat punya kontrol penuh atas koleksi musik vs kenyamanan layanan streaming yang udah terintegrasi. Ada yang ngeliat ini sebagai pelestarian budaya di era digital, ada yang cuma pengen iseng nyoba, dan ada juga yang ngerasa ini usaha yang sia-sia karena musik terus berubah dan layanan komersial tetap lebih praktis. Seru deh, kayak lihat perdebatan antara idealisme dan realitas teknologi.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *